Petai
Petai

Nama Ilmiah Petai Adalah Parkia Speciosa Hassk.

1. Nama dan Identitas

Nama Ilmiah: Parkia speciosa Hassk. 

Nama Umum: Petai, Pete

Nama Lain di Daerah: Jawa: Pete / Petai Sunda: Pete / Petai Madura: Petai Minangkabau: Peteh Melayu: Petai papan Dayak (Kalimantan): Petai Thailand: Sataw / Sataw daeng Malaysia: Petai Inggris: Stink Bean / Bitter Bean ---

2. Klasifikasi Ilmiah Kingdom: Plantae Subkingdom: Tracheobionta Super Divisio: Spermatophyta Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Fabales Famili: Fabaceae (Leguminosae) Genus: Parkia Spesies: Parkia speciosa Hassk.

Spesifikasi Tanaman Pohon Tinggi: 5–25 meter, dapat mencapai 30 meter. Batang: Tegak, bulat, kulit batang coklat keabu-abuan.

Daun Jenis: Majemuk menyirip ganda (bipinnatus). Panjang: 30–60 cm. Anak daun: kecil, tipis, berhadapan rapi, 15–30 pasang.

Bunga Bentuk: Bongkol menggantung mirip bola lampu. Warna: Putih kehijauan, kekuningan saat mekar. Aroma: Khas, menarik kelelawar dan serangga sebagai penyerbuk.

Buah dan Biji Bentuk: Polong panjang, pipih, hijau muda hingga hijau tua. Panjang: 20–50 cm, lebar 3–5 cm. Isi: 10–20 biji bulat pipih berwarna hijau mengilap (disebut petai).

Akar Jenis: Akar tunggang kuat dan dalam, disertai akar serabut.

Fungsi: Menopang pohon besar, menyimpan air, menyuburkan tanah karena mampu mengikat nitrogen.

Jenis-Jenis Petai

1. Petai Kerdil (Petai Kampung) Polong kecil, biji lebih sedikit, aroma lebih tajam.

2. Petai Papan (Petai Raksasa) Polong panjang dan besar, biji lebih banyak, rasa lebih ringan.

3. Petai Hutan (Petai Cina atau Petai Thailand) Banyak ditemukan di hutan Sumatra, Kalimantan, Thailand, dan Malaysia, umumnya untuk konsumsi lokal.

Manfaat

1. Menurunkan tekanan darah tinggi karena kandungan kalium. 2. Melancarkan pencernaan berkat serat. 3. Mengontrol kadar gula darah dengan indeks glikemik rendah. 4. Meningkatkan energi dan suasana hati melalui vitamin B6. 5. Memberikan perlindungan antioksidan dan anti-inflamasi. 6. Menjaga kesehatan ginjal, meskipun perlu diperhatikan pada penderita asam urat tinggi.

Kandungan

Biji petai mengandung nutrisi penting, antara lain: Protein: 5–6 g per 100 g biji Karbohidrat: 20–25 g Serat: 2–5 g Lemak sehat: 1–2 g Vitamin: A, B1, B2, B6, C Mineral: Kalsium, Fosfor, Zat Besi, Kalium, Magnesium Fitokimia: Alkaloid (parkine, stachyose), flavonoid (antioksidan), senyawa sulfur (penyebab bau khas).

Sejarah

Petai merupakan tanaman asli kawasan tropis Asia Tenggara. Tanaman ini berasal dari hutan hujan Sumatra, Semenanjung Malaya, Thailand bagian selatan, dan Kalimantan. Dari wilayah asalnya, petai menyebar ke berbagai daerah di Nusantara. Di Jawa, keberadaan petai diperkirakan sudah ada sejak masa Majapahit akhir hingga era Mataram Islam, ketika perdagangan hasil bumi dan rempah semakin meluas. Catatan etnobotani menyebutkan bahwa petai termasuk tanaman hutan yang kemudian dibudidayakan di pekarangan dan ladang sejak abad ke-16 hingga 17. Hal ini sejalan dengan tradisi masyarakat Jawa yang memanfaatkan tanaman pohon sebagai sumber pangan tambahan. Di kawasan pedesaan Jawa, petai mulai dikenal luas sebagai makanan rakyat sejak abad ke-18 dan 19, terutama di daerah pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Barat. Peranannya semakin besar ketika interaksi dagang dengan Sumatra dan Semenanjung Malaya berlangsung, sebab petai adalah hasil bumi yang juga diperdagangkan lintas pulau. Dengan demikian, meski petai berasal dari hutan tropis Asia Tenggara, penyebarannya ke Jawa erat kaitannya dengan proses migrasi penduduk, perdagangan antarpulau, serta budaya konsumsi masyarakat agraris yang akrab dengan sayuran hasil hutan. Kronologi Sejarah Petai di Nusantara 1. Pra-Sejarah hingga Awal Peradaban Austronesia (±2000 SM – 500 M) Petai tumbuh alami di hutan hujan tropis Asia Tenggara (Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan). Dimanfaatkan oleh masyarakat pemburu-peramu dan peladang berpindah sebagai tambahan makanan hutan. 2. Masa Kerajaan-kerajaan Awal di Sumatra dan Semenanjung Malaya (±500 – 1200 M) Petai mulai dikenal dalam pola pangan masyarakat agraris di Sumatra dan Semenanjung Malaya. Pohon petai sering ditanam di tepi ladang dan kebun sebagai tanaman naungan dan sumber makanan tambahan. 3. Masa Sriwijaya (abad ke-7 – 13 M) Perdagangan lintas laut Nusantara membawa hasil bumi termasuk petai ke wilayah lain. Catatan perjalanan Tionghoa menyebut konsumsi biji beraroma tajam dari wilayah selatan, yang diduga adalah petai. 4. Masa Majapahit Akhir (abad ke-14 – 15 M) Petai mulai masuk ke Jawa dari Sumatra dan Kalimantan melalui jalur perdagangan rempah dan hasil hutan. Pada masa ini, petai masih dianggap sebagai pangan lokal, bukan komoditas utama. 5. Masa Kesultanan Demak dan Mataram Islam (abad ke-16 – 17 M) Petai semakin dikenal di Jawa, terutama di pedesaan sebagai sayuran pendamping nasi. Petai ditanam di tepi hutan dan pekarangan, bersama tanaman keras lain seperti jengkol, kelapa, dan pisang. 6. Abad ke-18 – 19 (Masa Kolonial Belanda) Catatan etnobotani Belanda menyebut petai sebagai salah satu "hasil pangan rakyat" di Jawa dan Sumatra. Di Jawa, petai menjadi populer sebagai makanan rakyat, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Penyebaran semakin meluas seiring sistem perkebunan dan perdagangan lokal. 7. Awal Abad ke-20 Petai ditetapkan dalam katalog botani Hindia Belanda dengan nama ilmiah Parkia speciosa Hassk. Dipelajari secara ilmiah sebagai bagian dari flora Nusantara berfamili Fabaceae. 8. Masa Kemerdekaan Indonesia (1945 – 1970-an) Petai menjadi salah satu ciri khas kuliner Nusantara, terutama masakan Sunda, Jawa, Minang, dan Melayu. Konsumsi petai meningkat di perkotaan karena dibawa oleh migrasi penduduk dari desa. 9. Era Modern (1980-an – sekarang) Petai tidak hanya dikonsumsi di Nusantara, tetapi juga diekspor ke Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Popularitasnya meningkat dalam dunia kuliner sebagai bahan khas dengan aroma kuat. Di Jawa, petai menjadi bagian penting dari pasar tradisional, warung makan, hingga restoran khas Nusantara.

Penelitian Ilmiah

1. Analysis Of Nutritional Content in Petai (Parkia Speciosa Hassk.) With Various Food Processing Methods Penulis: Sisca Ulivia, Sugeng Maryanto, Indri Mulyasari Isi: Mengukur kandungan protein, lemak, karbohidrat, dan kalium petai dengan berbagai cara pengolahan (segar, direbus, digoreng) dari sampel Jepara, Jawa Tengah. 2. Formulasi dan Evaluasi Tablet Sistem Gastroretentif Ekstrak Daun Petai (Parkia speciosa Hassk.) Menggunakan HPMC-K4M dan Carbopol® 934P Penulis: Alinda Tania dkk. Isi: Penelitian farmasi yang membuat tablet gastroretentif dari ekstrak daun petai, mengevaluasi sifat fisik seperti kekerasan, kerapuhan, waktu terapung, dan adhesi mukosa. 3. Identifikasi Senyawa Flavonoid Ekstrak Kulit Buah Petai (Parkia speciosa) Asal Bulukumba Secara Spektrofotometer Infra Merah Penulis: Samsidar Usman, Julia Sapitri, Sry Widyastuti Isi: Menentukan jenis flavonoid dalam ekstrak kulit buah petai dari Bulukumba (Sulawesi) menggunakan spek-IR. 4. Efektivitas Ekstrak Etanol Polong Petai (Parkia speciosa Hassk.) sebagai Anti Ulcer Pada Tikus Wistar yang Diinduksi Etanol Absolut Penulis: Fitrya Fitrya dkk. Isi: Studi uji praklinis (hewan) untuk melihat potensi anti-ulkus dari ekstrak etanol polong petai. 5. Uji Efek Tonikum Ekstrak Buah Petai (Parkia speciosa Hassk.) terhadap Mencit Jantan Galur Swiss dengan Metode Natatory Exhaustion Penulis: Yithro Serang, Syafira Dhea Silviana Isi: Menguji efek tonikum (penambah stamina) ekstrak buah petai pada mencit dengan metode berenang hingga kelelahan. 6. Antioxidant Activities and Polyphenolic Constituents of Bitter Bean Parkia Speciosa (Empty Pods) Penulis: (institusi di Malaysia) Isi: Membandingkan aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol dan air dari polong kosong petai, mengidentifikasi beberapa polifenol seperti gallic acid, catechin, ellagic acid, quercetin. 7. Analysis of Fatty Acid Composition Using GC-MS Method and Antibacterial Activity Test of n-Hexane Extract from Petai Seeds (Parkia speciosa Hassk.) Penulis: Lamek Marpaung, Rio Maretanto Sinaga Isi: Menggunakan GC-MS untuk mengetahui komposisi asam lemak dalam biji petai dan menguji aktivitas antibakterinya dari ekstrak n-hexane. 8. UPLC-MS-Based Metabolomics Profiling for ?-Glucosidase Inhibiting Property of Parkia speciosa Pods Penulis: dari Malaysia, berbagai lokasi pengambilan sampel Isi: Melakukan profiling metabolit dengan UHPLC-QTOF-MS dari polong petai dan uji inhibisi ?-glukosidase (potensi terhadap pengendalian gula darah). 9. Keanekaragaman Contoh Petai (Parkia speciosa) dari Padang (Sumatra Barat) Penulis: E. Djajasukma Isi: Penelitian lama (1979) yang membahas keanekaragaman morfologi petai dari pasar Padang, termasuk bentuk polong, biji, serta kandungan protein biji.

Disclaimer

Informasi yang disajikan dalam ensiklopedia herbal ini bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti konsultasi medis profesional. Selalu konsultasikan dengan tenaga medis atau herbalis berpengalaman sebelum menggunakan herbal untuk pengobatan. Yayasan Padepokan Kalimosodo Makutoromo tidak bertanggung jawab atas penggunaan informasi ini tanpa supervisi yang tepat.



Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)